Uniknya Pernikahan Suku Sasak Lombok

Pernikahan Suku Sasak Lombok, “Mencuri atau Menculik” tak selamanya salah dan tak selamanya pelaku penculikan itu di masukkan ke dalam penjara, Anda tidak percaya cobalah anda berkunjung ke Pulau Lombok di sana anda akan menemukan sebuah taradisi yang sangat unik dan mungkin tidak akan di temukan di tempat lain, Tradisi unik ini adalah sebuah tradisi yang di lakukan oleh seorang pemuda (Teruna) sebelum melakukan pernikahan.

Para Teruna (Pemuda) harus mencuri pasangannya tanpa sepengetahuan orang tua, keluarga ataupun masyarakat di sekitar rumah Dedara (Pemudi) karena apabila dalam proses mencuri tersebut pelaku pencurian Teruna (Pemudi) di ketahui oleh orang lain maka Teruna (Pemuda) tersebut akan mendapat sangsi atau denda adat sesuai dengan denda yang berlaku pada kampung si "korban" (Wanita yang akan di culik).

Tradisi menucuri seakan menjadi tren bagi pemuda ataupun pemudi di Palau Lombok, ada beberapa alasan kenapa tradisi ini menjadi tren, Bagi Teruna (Pemuda) mencuri adalah suatu perbuatan yang di anggap kesatria karena pada saat proses mencuri rintangan yang di hadapi oleh Teruna (Pemuda) sangat menantang sedangkan bagi Dedadara (Pemudi) mencuri di anggap lebih terhormat dari pada dipinang ataupun di lamar sebelumnya.

Setelah Teruna (Pemuda) berhasil mencuri Dedara (Pemudi) maka selanjutnya akan di lakukan proses nyelabar, Nyelabar adalah proses pemberitahuan kepada keluarga Dedara (Pemudi), Nyelabar terdiri dari lima orang tidak boleh lebih ataupun kurang dan harus menggunakan pakaian adat asli suku sasak. Penyelabar tidak di perkenankan untuk memasuki rumah Dedara (Pemudi) melainkan harus duduk bersila di halaman depan rumah Dedara (Pemudi). Satu dari lima orang anggota penyelabarlah yang akan menjadi juru bicara untuk menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan mereka datang ke rumah Dedara (Pemudi). Dalam proses Nyelabar ini akan terjadi beberapa transaksi yang salah satunya adalah proses tawar menawar biaya adat yang di kenakan oleh pihak Dedara (Pemudi) kepada pihak Teruna (Pemuda).

Apabila beberapa proses adat tadi telah selesai di lakukan maka selanjutnya akan di lakukan prosesi pernikahan antara Teruna (Pemuda) dan Dedara (Pemudi), Ada beberapa hal menarik yang sering terjadi ketika proses pernikahan berlangsung di antaranya adalah pada saat Teruna (Pemuda) salah mengucapkan lafadz ijab kabul, Pada saat Teruna (Pemuda) salah mengucapkan lafadz ijab kabul maka dengan serentak masyarakat yang menonton acara tersebut akan berteriak dan bersorak, Jangan heran jika proses ijab kabul ini akan di ulang tiga kali bahkan lebih.

Setelah proses ijab kabul berlangsung maka keesokan harinya akan dilakukan proses nyongkolang, Nyongkolang adalah proses yang bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat banyak bahwa Teruna (Pemuda) dan Dedara (Pemudi) telah syah menjadi suami istri, Selain itu nyongkolang juga bertujuan untuk membawa Dedara (Pemudi) kembali kerumahnya dengan cara di arak dan di iringi oleh musik tradisional gendang beleq atau yang lebih moderen pada saat ini adalah kecimol.

Untuk pemasangan iklan ataupun info lebih lanjut silahkan hubungi saya di : 
hand phone : (Telkomsel) 082-342-114-129 
email : 7og4nk@gmail.com

+++++TATA TERTIB BER-KOMENTAR++++
(1) Mohon Ber-Komentar Dengan Sopan
(2) Mohon Untuk Tidak Menyebar Fitnah Ataupun Sara
(3) Mohon Untuk Sertakan Sumber Artikel Jika Anda COPAS
(4) Berkomentarlah Dengan Bijak dan Sesuai Dengan Pembahasan

+++++MOHON MAAF JIKA TIDAK BISA REPLAY+++++