Sejarah Didirikannya Masjid Kuno Bayan Beleq Lombok Utara

Masjid Kuno Bayan didirikan sekitar 300 tahun sebelum Masehi oleh ulama di Pulau Lombok, ketika itu alam masih sangat murni, belum dijamah sepenuhnya oleh tangan manusia sehingga batu, kayu dan tanah masih bisa diajak bicara. Masjid Kuno Bayan dibangun jauh hari sebelum lahirnya agama Islam sebagai persiapan menyambut datangnya agama Islam.

Bahan utama pembangunan Masjid Kuno Bayan berupa sebatang pohon kayu yang digunakan sebagai tiang agung. Kayu tersebut bernama Kayu Santa Guri. Kayu Santa Guri di ambil dari sebuah gunung bernama Gunung Batua yang terletak di Desa Sembalun oleh seorang ulama yang sudah diberikan petunjuk oleh Allah tentang akan datangnya agama Islam ke Gumi Lombok. Kayu Santa Guri yang akan dijadikan sebagai tiang agung pembuatan masjid Kuno Bayan ini pernah ditancapkan pada lima tempat oleh ulama tersebut tetapi belum bisa berdiri tegak layaknya sebuah tiang masjid. Kelima tempat tersebut adalah sebagai berikut :

  • Kayu Santa Guri ini pertama kali ditancapkan oleh ulama sebagai tiang agung masjid persiapan di Dasan Biloq, tetapi kayu tersebut tidak bisa berdiri tegak meskipun telah ditancapkan sedalam mungkin, akhirnya ulama tersebut berpikir bahwa di tempat tersebut tidak cocok dijadikan sebagai tempat pembangunan masjid persiapan, akhirnya dipindahkan ke tempat lain yakni di Barung Biraq.
  • Tempat kedua ditancapkan Kayu Santa Guri adalah di Barung Biraq. Setelah ditancapkan sedalam mungkin, kayu tersebut juga tetap tidak bisa berdiri dengan tegak seperti yang diharapkan, akhirnya dipindahkan lagi tempat lain yang disebut Anyar.
  • Pemindahan tempat penancapan tiang agung tersebut dari Barung Biraq menuju Anyar merupakan pemindahan yang ketiga kalinya, tetapi ditempat ini juga telah di coba berkali-kali untuk menancapkan kayu tersebut tetapi tidak berhasil mendirikannya dengan tegak, akhirnya ulam tersebut mencari tempat lain untuk mendirikannya.
  • Pemindahan yang ke empat kalinya yakni dari Anyar menuju Sukadana, di tempat ini lagi-lagi ulama tersebut berusaha menancapkan kayu Santa Guri tersebut agar bisa berdiri tegak tetapi mengalami hal yang sama seperti tempat-tempat sebelumnya.
  • Pemindahan yang kelima, yakni dari Sukadana menuju Semokan, di tempat ini juga kayu yang akan di jadikan sebagai tiang agung masjid persiapan tersebut tetap tidak bisa berdiri dengan tegak, karena ulama tersebut kelelahan mencari tempat mendirikan masjid akhirnya kayu tersebut dibiarkan berdiri selama tiga tahun berhujan panas dengan posisi condong menghadap kiblat. Ulama tersebut bertafakkur memohon petunjuk kepada Allah Swt selama tiga tahun agar diberikan tempat yang cocok untuk menancapkan kayu Santa Guri yang akan dijadikan sebagai tiang agung.

Setelah tiga tahun bertafakkur maka turunlah petunjuk bahwa kayu Santa Guri tersebut harus ditancapkan pada sebuah tempat yang disebut Karang Bajo Bayan, maka ulama tersebut memindahkannya dari Semokan menuju Karang Bajo. Suatu keanehan terjadi setelah kayu Santa Guri ditancapkan di Karang Bajo maka terlihat oleh orang yang memiliki hati dan pikiran yang bersih bahwa kayu tersebut menjulang tinggi laksana menyangga langit dan berdiri sangat tegak. Kemudian ulama tersebut membangun Masjid persiapan yang sampai sekarang ini di kenal sebagai Masjid Kuno Bayan.

Menurut riwayat bahwa di dekat pemancangan tiang agung tersebut, telah dibangun sebuah gudang gula merah yang terbuat dari air sadapan enau hasil kerajinan penduduk primitif setempat waktu itu. Gudang tersebut tiba-tiba terbakar dan menghanguskan semua yang ada dalam gudang, bau gula merah yang terbakar dan asapnya yag mengepul ke atas sampai ke langit tercium oleh 44 malaikat. Malaikat-malaikat tersebut kemudian turun ke bumi menjumpai ulama tersebut lalu bertanya, "mengapa saudara memanggil kami?"

Ulama tersebut menjawab. "Saya tidak pernah memanggil siapa-siapa, hanya gudang gula merah ini yang terbakar tiba-tiba."

Maka jawab malaikat, "Kami senang mencium bau yang harum, itulah sebabnya kami datang."

Maka jawab sang ulama, "O..., kalau begitu berarti saya bisa memanggil tuan dengan menggunakan media ini?"

Maka terjadilah perjanjian bahwa asap gula memang bisa dijadikan sebagai media untuk menghadirkan gaib termasuk Malaikat. Itulah dasar pembakaran kemenyan di Gumi Lombok.

Setelah selesai berdialog dengan Malaikat kemudian ulama tersebut mendirikan masjid di Karang Bajo dengan peralatan seadanya, tetapi berkat karramallahuwajahah, masjid tersebut bisa bertahan sepanjang zaman.

Menurut penuturan nara sumber (Papuq Baoq, orang tertua di Bayan selaku tokoh adat,) setelah tiang agung tersebut di tancapkan maka tiang tersebut terlihat menjulang tinggi sampai kelangit laksana menyangga langit. sehingga oleh keturunan ulama yang ada di sana dan masyarakat Bayan tetap mengagungkan masjid Kuno Bayan samapai saat ini.

Kemudian tempat-tempat yang sudah dipancangkan tiang agung tersebut tetap dikeramatkan dan di ganti dengan langgar-langgar, itulah sebabnya sampai saat ini ada langgar tempat pemujaan. Dan tempat terbakarnya gudang gula tersebut sampai saat ini tidak bisa ditumbuhi oleh apapun bahkan rumput sekalipun.